Sinar Kegemilangan

Penantian Sinar Islam Bakal Menjelma

  • IKLAN

  • KALENDER

    Julai 2007
    M T W T F S S
        Aug »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

HANYA KHILAFAH ISLAM YANG MAMPU MELAWAN AS

Posted by akmalarif07 di Julai 30, 2007

sumber : hayatulislam.net

Fakta-fakta menyaksikan bahawa sasaran utama imperialisme AS dalam dua dekad terakhir ini adalah Dunia Islam. Pangkal persoalannya, sejak berakhirnya Perang Dingin, hanya kekuatan ideologi Islamlah yang diperhatikan oleh AS dalam meng’anticipation’ kemungkinan ancaman terhadap keamanan AS. Keamanan yang dimaksud bersifat komprehensif; mencakup keamanan ekonomi, budaya dan ideologis.

Pendahuluan

Sejak akhir Perang Dunia II, AS telah melebarkan sayap pengaruhnya ke seluruh dunia, menggantikan kedudukan ‘classical imperial’ (British, Perancis, Sepanyol, atau Belanda). AS bahkan secara militer telah masuk ke Korea, Vietnam, Filipina, dan Panama. Secara ekonomi atau politik AS juga, sangat kuat di hampir seluruh negara Amerika Latin dan di Asia-Pasifik. Di negeri-negeri ini, diktator naik-turun silih berganti, namun ketaatan penguasa setempat kepada AS tidak pernah berubah.Lain pula halnya dengan Dunia Islam. Dunia Islam memiliki sikap kritis yang agak berbeza. Penyebab utamanya adalah potensi ideologis dalam aqidah Islam, yang menjadikan AS tetap dipandang sebagai kekuatan kuffar yang wajib ditolak.

Di negeri-negeri lain, yang boleh dipandang miring, hanyalah keserakahan perusahaan-perusahaan AS, yang membeli denga harga yang murah sumberdaya alam setempat, lalu menjualnya semula sebagai produk industri dengan harga berlipat kali ganda. Rakyat negeri-negeri ini tidak memiliki emosi ideologis maupun historical. Sekalipun suatu masa dahulu, mereka mengambil ideologi kiri (Sosialisme), itu hanyalah kerana ideologi ini dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap rejim diktator yang didukung AS (kes Nikaragua atau Chile). Apabila AS memberikan sedikit “demokrasi”, maka ideologi kiri ini pun larut dengan sendirinya. Tinggal Cuba dan Korea Utara yang masih teguh memegang Sosialisme.

Selain potensi ideologis, Dunia Islam juga menyimpan potensi-potensi lain. Negeri-negeri Padang Pasir di Timur Tengah atau Afrika Utara, tidak dapat dinafikan, kaya akan sumber-sumber hasil bumi minyak dan gas. Indonesia kaya dengan hasil hutan dan sumberdaya laut. Afghanistan memiliki potensi geo-strategik, sebagai jalur penghubung ke negara-negara Asia Tengah eks Soviet yang juga kaya sumber alam (minyak & gas, uranium). Dan negeri-negeri Asia Tengah ini juga adalah sebahagian dari Dunia Islam.

Penduduk Dunia Islam dewasa ini ditaksir telah mencapai 1,5 billion orang. Mereka ini secara praktikal merupakan potensi pasar yang belum sepenuhnya digarap. Mereka belum sepenuhnya memiliki “selera AS” untuk sepenuhnya siap mengkonsumsi produk-produk AS. Yang “berselera AS” pun masih mampu mengalihkan ke saingan AS lain seperti Jepun, China, atau Eropah.

Senario inilah yang terjadi sepanjang dua dekad terakhir ini yang memicu AS untuk terus berkonsentrasi “menakluki” Dunia Islam. Politik Luar Negeri mereka benar-benar terfokus ke Dunia Islam dan cukup sekali-sekali saja menjengok ke arah Korea Utara atau Cuba. Apalagi sejak berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, AS tidak lagi mempunya pesaing di dunia Global, selain Dunia Islam.

Pengalaman AS dengan revolusi Iran memberikan pengalaman yang cukup berharga. Kekuasaan Syah Iran yang pro-Barat pada waktu itu, tiba-tiba sahaja mampu ditumbangkan oleh kekuatan Islam ideologis. Hal ini memberi kesedaran kepada AS untuk lebih berusaha “memanfaatkan” kekuatan ideologis yang mana pun demi kepentingannya. Ini adalah salah satu prinsip kapitalisnya.

Peluang

Namun, imej baik imperialisme AS di Dunia Islam itu kini tampaknya mulai ditinggalkan. Hal ini terutama kerana AS tak perlu khuatir lagi bahawa Dunia Islam akan “mencari teman” kepada seterunya (Blok Timur) seperti sebelumnya.

Walaupun demikian, AS tetap merancang senario untuk me’legal’kan langkah-langkahnya. Pada tahun 1991, AS memancing agar Iraq menceroboh Kuwait. Setelah itu, AS datang pula umpama dewa pembebas bagi negeri-negeri Teluk.

Sepuluh tahun kemudian (2001), suatu konspirasi telah menjunamkan pesawat ke gedung WTC. Setelah itu, AS langsung terus menuduh bahawa teroris-teroris itu bersarang di Dunia Islam, terutama Afghanistan, Iraq, dan Iran. Namun kemudian, tuduhan itu makin melebar hingga Indonesia pun dikatakan sebagai sarang teroris, terutama kerana terjadinya kes Bom Bali, Bom Mariott, dan Bom Kuningan.

Selain pencerobohan ketenteraan, AS juga terus membuat langkah-langkah strategis, seperti:

(1) Menaja pengkajian-kajian Islam yang seiring sejalan dengan kepentingannya, seperti kajian Islam Liberal, pembuatan Draft Counter Legal Compilation Hukum Islam, mengundang para tokoh-tokoh untuk menyaksikan kehidupan di AS, hingga mendorong perubahan kurikulum pendidikan Islam —dengan membuang segala hal yang dianggap bertentangan dengan isu-isu Human Rights, persamarataan gender, demokrasi, dan pluralisme. Akibatnya, banyak pengertian yang berabad-abad telah jelas, kini diusahakan untuk mengubahnya. Pengertian kafir, misalnya, diubah menjadi “mengingkari demokrasi”, dan teror adalah “memusuhi AS”.

(2) Pemberian dana untuk membuat apa yang disebut dengan Undang-Undang Antiteroris, yang secara praktikalnya, akan mudah disalahgunakan untuk membungkam para aktivis Islam ideologis.

Namun, langkah-langkah AS ini faktanya semakin memperjelas permusuhan AS terhadap Dunia Islam. Walhasil, semakin meningkat kebencian umat Islam terhadap AS. Malah, sebaliknya, polisi-polisi AS ini justru meningkatkan kesedaran politik umat Islam, apalagi apabila mereka menyaksikan konspirasi AS di Timur Tengah, terutama di Palestin dan Iraq.

Rakyat negeri-negeri Islam ini juga makin meningkat sikap kritisnya terhadap para penguasanya yang dianggap “boneka” asing (seperti IMF dan sejenisnya). Yang lebih ditakuti lagi oleh AS dan para agennya adalah semakin meningkatnya ketidakpercayaan umat pada ideologi Kapitalisme dan semakin munculnya harapan mereka pada ideologi Islam. Namun, faktor ini jugalah yang makin memacu AS untuk campur tangan dalam kurikulum pendidikan negeri-negeri Islam, serta membuat UU Antiterorisme dengan tafsiran yang secara ketara mendokong kepentingan AS.

Pada sudut lain, situasi ini telah meningkatkan curiosity dunia luar terhadap Islam dan umat Islam. Pasca runtuhnya WTC, di AS sendiri rakyat —termasuk non-Muslim yang selama ini memang sudah agak kurang mempercayai pemerintahnya— menyerbu buku-buku serta kajian-kajian Islam. Mereka berusaha mencari tahu bagaimana Islam dan umat Islam sebenarnya.

Ancaman

Kini semua makin jelas, bahawa umat Islam sedang dalam bidikan sasaran AS. “Perkara-perkara” yang AS kehendaki dan lakukan, itu adalah di luar lingkar kekuasaan kita. Yang dalam lingkaran ikhtiar kita adalah bagaimana untuk mempersiap siagakan umat ini sehingga mampu menghindari bidikan, kebal terhadap bidikan, mencegah bidikan, atau bahkan membalas bidikan-bidikan tersebut.

Mahu atau tidak, yang pertama-tama adalah kesedaran politik umat mesti dikentalkan. Mereka harus memahami politik Islam sebagai suatu aktiviti yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim sehingga mereka tidak mungkin diperalat oleh agen-agen kafir. Mereka akan semakin teliti dan bersikap dengan benar jika penguasa (yang menjadi ‘agen’ asing) makin represif, juga ketika ada tangan-tangan yang misteri yang cuba memecah-belahkan umat, baik dengan isu-isu khilafiah mahupun dengan sentimen ‘ashobiyah’ (golongan, kepartaian, suku, mazhab, kenegaraan dan lain-lain).

Yang sangat penting, optimisme umat perlu ditumbuhkan, bahawa Allah pasti akan menolong hamba-hamba-Nya yang menolong agama-Nya (ikut berjuang dalam dakwah dan amar makruf nahi mungkar).

Solusi

AS memiliki “segala2nya”. Mereka mempunyai mesin politik, ekonomi, budaya, dan militer untuk mewujudkan ambisinya; membidik kaum Muslim. Mesin politik mereka mengubah pola pikir politik elit penguasa di Dunia Islam serta mempengaruhi setiap pembuatan undang-undang maupun pengambilan keputusan. Mesin ekonomi mereka menciptakan ketergantungan, baik secara teknologi maupun secara ekonomi, dalam bentuk hutang luar negara. Mesin budaya mereka adalah dengan menyusupkan gaya hidup di tengah umat agar mereka menjadi semakin ‘percaya diri’ jika mereka menjadi semakin “Amerika”: berbaju model Amerika, makan makanan Amerika, menonton filem Amerika, dan seterusnya.

Militer mereka juga akan campur tangan ketika mesin-mesin tersebut dianggap kurang efektif. Siapa yang mampu melawan dominasi militer AS, yang memiliki puluhan kapal induk bertenaga nuklear, ratusan kapal selam, ribuan pesawat tempur canggih, dan puluhan ribu hulu ledak nuklear yang sanggup meng-”kiamat”-kan planet ini.

Yang sanggup menghentikan mesin itu semua hanyalah sebuah negara yang terstruktur rapi, dengan rakyat-rakyat yang militan, dan sistem yang benar yang membuatnya kuat. Negara yang seperti itu hanyalah Daulah Islamiyah. Dalam hal ini, umat Islam masih memiliki ideologi yang memungkinkan mereka “membangkitkan kembali” negara ini. Negara seperti inilah yang pernah membangkitkan bangsa Arab bersama Rasulullah Saw sekaligus mampu menggulingkan kuasa adidaya Parsi dan Romawi pada saat itu.

Daulah Islamiyah pula —yang pasca Rasulullah Saw disebut sebagai Khilafah Islamiyah— yang kelak akan mengambil alih kembali kepemimpinan dunia, ketika kepemimpinan Kapitalisme-Sekular makin menunjukkan kerapuhannya dan kerosakannya. Bagaimanapun, generasi muda di AS saat itu tidaklah setangguh generasi mereka semasa Perang Dunia II, apalagi semasa George Washington melaungkan kemerdekaan Amerika pada akhir abad 18.

Kini umat Islam dalam posisi “the way of no-return” (jalan di mana tidak boleh balik lagi). Kondisi di atas mewajibkan kita untuk semakin menggencarkan usaha dakwah penegakan syariat dan Khilafah. Kita harus mencuba 1001 uslûb (cara) agar idea-idea syariat Islam yang kâffah, yang hanya sempurna dengan penegakan Khilafah, mampu sampai kepada umat. Umat yang sudah “dikepung” dengan idea-idea kufur sekular agar jangan sampai mereka belum apa-apa sudah menolak semua yang berbau syariat Islam atau Khilafah Islam, hanya kerana mereka belum dimasukkan melalui saluran (entry-point) yang tepat.

Walhasil, gaya-gaya dakwah yang sudah ada saat ini bermula dari pendekatan baca-tulis al-Quran, majlis zikir, pengurusan qalbu, hingga aktiviti pendidikan dan sosial lainnya harus dirangkul sedemikian rupa hingga mereka menjadi mitra dakwah yang kuat, tempat penegakan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah mulai menyemai benihnya. Ini yang pertama.

Kedua, para aktivis dakwah harus makin menggencarkan serangan terhadap idea-idea kufur, mengungkapkan kepalsuannya, dan membongkar kerosakan tersembunyi di dalamnya; sekalipun idea-idea itu sudah sedemikian rupa berakar dan sebahagiannya telah memakai “baju” Islam (seperti idea-idea pluralisme, kesetaraaan gender, demokrasi, Human Right, pasar bebas, dan sebagainya). Tentu saja serangan ini tetap terfokus pada idea, bukan dialihkan kepada individu —yang sebenarnya juga Muslim, namun karena kelalaian atau kecerobohannya, mereka telah mengadopsi idea-idea tersebut.

Ketiga, terus menerus menggencarkan kritik dan muhasabah terhadap pelbagai polisi-polisi penguasa yang ternyata dipandu oleh kepentingan asing, atau yang bertentangan dengan syariat Islam (pembiaran tempat maksiat, pengabaian persoalan yang dihadapi masyarakat, dan lain-lain).

Lebih dari itu, kita harus memahami bahawa Islam dan umat Islam memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi sebuah kekuatan global, yang mampu menghentikan imperialisme AS, sekaligus mengubur dalam-dalam ideologi Kapitalisme yang pada saat ini mendominasi dunia.

2 Respons to “HANYA KHILAFAH ISLAM YANG MAMPU MELAWAN AS”

  1. komar said

    hanya dengan khilafahlah semua permasalahan khususnya yang ada di indonesia bisa beres………………….SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA

  2. komar said

    khilafah tidak takut dengan AS………
    antum semua jangan ragu untuk sama2 berjuang demi tegaknya kembali daulah khilafah rasyidah
    ALLAHUAKBAR…………………………..

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: